King Dubbing Indonesia: The Lion

(Kamera melihat kerumunan hewan di Pride Rock. Rafiki memegang Simba yang baru lahir dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Cahaya matahari menyinari bayi tersebut.)

Mufasa: (Tersenyum bangga) Lihatlah, Simba. Semuanya yang disentuh cahaya matahari... adalah milik kerajaan kita.

Simba: (Antusias) Wow! Jadi semua yang gelap itu... bukan milik kita?

Mufasa: Tepat sekali. Di luar perbatasan kerajaan, kau tidak boleh pergi ke sana, Simba. Itu sangat berbahaya. The Lion King Dubbing Indonesia

Simba: Tapi ayah, bukankah seorang raja bisa berbuat sesuka hati?

Mufasa: (Tertawa lembut) Menjadi raja bukan berarti boleh berbuat semaumu, Simba. Ada lebih banyak hal daripada sekadar memiliki kekuasaan.

Simba: Maksud Ayah?

Mufasa: Bayangkan saja... segala sesuatu di bumi ini memiliki keseimbangan. Dari semut yang merayap, hingga rusa yang melompat.

Simba: Tapi ayah, bukankah kita memakan rusa?

Mufasa: Ya, itu benar. Tapi saat kita mati, tubuh kita menjadi rumput. Dan rusa memakan rumput. Kita semua terhubung dalam lingkaran kehidupan. (Kamera melihat kerumunan hewan di Pride Rock


The late great Lukman Sardi voiced Mufasa. In a nation that respects patriarchs and elders, Lukman’s deep, warm, yet authoritative Javanese-inflected voice sounded like every Indonesian child’s ideal father. When Mufasa’s ghost spoke to Simba from the clouds, the reverent silence in Indonesian cinemas was palpable. Lukman didn't just voice Mufasa; he became the voice of conscience for a generation.

Several factors elevated The Lion King dubbing Indonesia from a mere translation to a cultural phenomenon: